Pemanis buatan  atau artificial sweetener diklaim oleh produsennya sebagai bahan pemanis yang sedikit kalori dan mampu mencegah diabetes serta  mengurangi kegemukan.  Artificial sweetener mengandung sukralosa yaitu zat pemanis buatan yang diperoleh dari pemrosesan gula (sukrosa). Rasa manis sukralosa diperkirakan mencapai 600 kali rasa manis sukrosa.

Benarkah pemanis buatan yang  umumnya banyak  digunakan pada minuman diet softdrink ini bisa menurunkan berat badan?  Hasil studi periset Universitas Sydney Australia yang direlease oleh jurnal bergengsi Cell Metabolism,  justru memperlihatkan hasil yang mencengangkan. Bagaimana riset tersebut dilakukan?. Para periset menggunakan binatang berupa serangga buah sebagai obyek percobaan.  Binatang  tersebut disuplai minuman yang kaya sukralosa selama kurang  lebih 5 hari. Periset kemudian menemukan bahwa saat binatang percobaan tadi diberi makanan, mereka jadi lahap sekali hingga memakan buah-buahan yang disodorkan jauh lebih banyak dari biasanya.

Para peneliti menyelidiki kenapa binatang tersebut jadi demikian? Ternyata pemanis buatan tersebut justru menimbulkan rasa manis berlebih ketika binatang serangga  tersebut mengkonsumsi buah-buahan. Akibatnya para binatang itu inginnya makan lebih banyak, alias lebih lapar dari biasanya. Profesor Greg Nelly  menjelaskan bahwa  rasa manis mengirimkan sinyal ke otak yang berintegrasi dengan sensor energi  yang dinamakan AMPK.  Ada daerah di otak yang mencium dan mengintegrasikan pemanis dan energi dari isi makanan. Saat rasa manis dan energi  tidak seimbang untuk jangka waktu tertentu maka otak akan melakukan rekalibrasi untuk mengkonsumsi kalori lebih banyak lagi.

Kesimpulannya,  inilah yang membuat binatang percobaan yang mengkonsumsi  sukralosa menjadi lebih lapar dan ingin makan lebih banyak.  Hal ini tentunya merangsang terjadinya kegemukan (obesitas).

Sobat Foodigan, terserah kalian dalam menyikapinya, karena penelitian ini dilakukan masih pada tahap binatang percobaan. Semua ini masih menjadi bahan perdebatan, sebagaimana  Dr Ros Miller, ahli nutrisi  dari  British Nutrition Foundation yang mengomentari studi tsb mengatakan lewat  situs  bbc.com, bahwa  pola hubungan yang sama mungkin tak terjadi pada manusia. Penelitian yang dilakukan tersebut masih tahap awal dan perlu penelitian lebih jauh dan mendalam.